Selasa, 06 September 2011

...

"Jika kebetulan terjadi terlalu banyak, apakah kamu percaya bahwa itu tidak bermakna?"-(Roman Misteri-Seri Bilangan Fu)

Senin, 05 September 2011

Idola

Sudah lama sekali saya terpesona dengan pemikiran dan pribadi Bapak Burhanudin Jusuf Habibie, pria yang berperawakan kecil, berbicara seakan meledak-ledak namun sungguh ber-isi (sudah tidak usah dibahas betapa ia sungguh pintar, rasanya semua orang tau betapa luar biasanya ia).


Seingat saya, saya tak cukup punya banyak idola. suka dengan perawakan, permainan, senyum atau hal-hal lain ya seringlah.. tapi jika sampai melekatkan "lebel" idola tentu tak semudah itu. ada ramuan tertentu untuk reaksi kimia semacam itu, yang secara sadar sayapun tak pernah tau, bagaimana.


beberapa tahun kebelakang, saya menemukan dua sosok lain, selain si pintar pembuat pesawat terbang itu. yang pertama, seorang dosen saya dibangku kuliah, ketika itu saya kuliah jurusan hukum dimana (di kampus saya) banyak dosen yang terlalu teoritis, kurang praktikal dan tidak open minded.. atau jikapun ada yang menunjukkan dirinya seolah-olah open minded, pada akhirnya saya tetap menemukan celah bahwa ia hanyalah open minded yang mungkin sebenarnya belum bisa menerima ke open minded-an orang lain hehe.

tapi tidak dengan dosen yang saya ceritakan ini. saya masih ingat bagaimana saya mengawali hari pertama saya dikelas itu (bahkan, kelasnya pun masih ingat. jarang yang seperti ini hehe). saya datang tak cukup cepat hingga bangku-bangku cukup penuh, posisi uenak saya yang biasa ditengah-tengah (tidak terlalu depan, tidak terlalu belakang) sudah terisi, habis. kalian bisa tebak, saya duduk dibarisan paling depan, begitupun saya masih bisa bersyukur tidak duduk dibaris dekat-dekat meja dosen.


karena ini adalah kelas pertama, maka pengajarnyapun belum ketahuan. lalu muncul Bapak ini dengan baju biru (yang kemudian saya tau, bahwa ia sering sekali memakai baju berwarna biru), belum pernah liat sebelumnya. Kesan pertama ya biasa saja, malah cenderung "sok galak" atau "galak" beneran saya tak taulah, yang pasti ia tidak mempersilahkan mahasiswa yang terlambat datang masuk kelas, dengan sedikit berteriak dan meminta mahasiswa yang duduk dekat pintu untuk menutupnya. Ia juga tidak menyukai mereka yang tidak membawa buku, apalagi ketahuan tidak membawa Burgelijk Wetboek atau Wetboek van koophandel (keduanya kitab sakti mahasiswa hukum, jurusan perdata dagang), ia bisa tidak berhenti menyindir, nyinyir-nyinyir yang terus terang saya kurang suka, "lelaki kok nyinyir-an".


karena ia mengajar mata kuliah hukum asuransi, maka hari pertama kelasnya itu ia bercerita tentang resiko. saya pikir si bapak galak ini punya warna suara yang cukup menarik, tidak terlalu berat tidak juga terlalu genit, saya yang tidak terlampau tertarik lama-lama fokus juga mendengarkan, apalagi posisi saya yang kurang menguntungkan, berada dibarisan terdepan. sampai suara yang menarik itu bertanya "Jadi.. apa yang dimaksud dengan resiko? mba yang pake baju biru?". Bapak ini menatap kearah saya, kepala saya alihkan kebelakang mencari-cari siapa tau ada mba-mba lain yang memakai baju berwarna sama. "kamu, iya kamu. yang pake baju biru". memang malangnya, tidak ada orang lain yang memakai baju biru disekitar-sekitar situ. Metodenya ternyata sangat menarik, ia tidak memberikan suatu pengertian atau definisi akan suatu hal. yang dilakukannya adalah memberikan informasi yang menstimulasi sesuai kebutuhan, kesimpulannya ada dikepala mahasiswanya sendiri.


Jawaban saya ternyata cukup memuaskan beliau, senyumnya mengatakan demikian. dilanjutkan dengan "siapa nama kamu?", "Melly, Pak". sejak saat itu, setiap kali pertanyaan miliknya tak mampu dijawab mahasiswa satu kelas, matanya lalu mencari-cari, mulutnya seraya bertanya pertanyaan yang lain lagi : "Melly, mana Melly?".


yang kedua, adalah seorang Mid-fielder asal Jerman. Mesut Ozil, keturunan Turki yang baru saya "kenal" pada piala dunia kemarin. No. 11. saya ingat betul bagaimana ia bermain dengan pintar (saya tak mengerti teknik sepak bola, tapi saya pikir saya yang awam ini bisa melihat segala gerakannya yang terarah dan tepat), puncaknya saat jerman menumbangkan Inggris sekaligus memaksa para pemainnya pulang dengan skor 4-1. Otak dan langkahnya yang brilliant kembali ia ulang saat menghadapi Argentina, disana saya mulai paham bahwa suatu hari kelembutan dan kecerdasan akan mengalahkan betapa kerasnya suatu hal. Ozil membuat saya menyukai sepak bola, permainan yang sejak dulu saya pikir hanya mementingkan hasil. ternyata sepak bola bisa cantik juga.


satu hal yang perlu digaris bawahi, saya percaya sosok idola bagi setiap orang punya nilai macam-macam, berdasarkan sejarah-sejarah tertentu. tapi jangan lupa, idola sedikit banyak mencerminkan bagaimana pribadi yang mengidolakan. jangan sampai terjerumus dan malah merugikan diri sendiri, jadilah eklektik (bukan oportunis).


hari ini, saya deklarasikan saya punya idola baru. "WW" namanya. mungkin ceritanya, lain kali saja ya? :)


Love,

M.I




Selasa, 23 Agustus 2011

Rintik dikala tidak hujan :D

Sebuah video kolaborasi dua sahabat yang tidak jelas bermusik apa, jangan dihina. jangan pula dikritik karena kita tak menerima kritik, terimanya keripik hahaha. peace ^^


Love,
M.I

Minggu, 21 Agustus 2011

Sabar?

Dia selalu bisa memberi pelajaran dari apa saja, kita mungkin sulit menduga tapi ketika terjadi kita hanya tinggal menjalani saja.


pagi ini kesabaran saya diuji dengan kadar yang cukup, ada hal yang beberapa minggu ini saya coba redam, konsentrasi untuk hal-hal lain yang lebih penting untuk diurus. tapi entah mengapa, pagi ini rasanya saya hampir dipuncak kesabaran.

saya pernah berbincang sedikit tentang "sabar" ini dengan seorang teman dekat, berawal dari tulisannya tentang "batas" kesabaran disebuah jejaring sosial yang kami geluti bersama. kalau tidak salah ingat, dalam tulisannya itu ia mempertanyakan dan sekaligus menemukan jawaban bahwa sebenarnya manusia memiliki batas kesabaran, yang karena fase dalam hidupnya, "batas kesabaran" itu bisa saja semakin melebar, menjauh, dengan kata lain seseorang yang memang mencoba sabar akan menjadi lebih sabar.

sebagian jiwa saya yang cukup logis sudah hampir meluapkan yang rasanya sudah sangat tepat untuk saya luapkan, tapi sebagaian yang lain menentang mati-matian seolah menasihati bahwa apapun yang meledak tentu tidak akan menjadi baik, kecuali ledakan bintang.



saya pikir, saya hampir sampai dikelelahan. saya jaga sekali waktu dan masa, berusaha untuk tenang hingga semuanya bisa berjalan lebih baik, padahal sebenarnya tentu saja tidak demikian yang sepertinya tidak perlu saya ceritakan. saya hanya butuh seseorang yang dapat mengerti usaha saya, usaha untuk selalu sabar, usaha untuk menjaga hal yang saya pikir perlu dijaga. bukan seseorang yang hanya bisa melihat kesalahan-kesalahan yang saya lakukan dan melakukan pembenaran-pembenaran atas apa yang ia ingin lakukan.



saya tak pernah bisa mengeluarkan emosi saya, kecuali mungkin dengan diam dan menangis. tapi itu tidak saya pilih, saya sudah lumayan lelah. Saya juga tak memilih untuk memulai berdiskusi, karena saya pikir sudah seharusnya kita semua belajar menjadi dewasa tanpa dipaksa oleh pemikiran orang lain, bukan?.



mungkin kali ini, menambah kadar ketidakpedulian adalah pohon yang paling rindang untuk memetik buah kesabaran. semoga saja :)


Love,

M.I