Kamis, 09 Desember 2010

Desember?

Ga kerasa ya?,
akhirnya tiba juga di bulan terkecil dalam keluarga bulan-bulanan: Desember.
itu berarti, 2010 akan segera berakhir dalam hitungan hari, berganti dengan 2011 yang terpisahkan hanya sepersekian detik.
Keluar sebentar dari topik "Desember", kemarin ini baru saja kita umat muslim memperingati datangnya 1 Muharam, Tahun Baru berdasarkan perhitungan Islam. Hal yang patut disadari adalah bahwa semakin lama, waktu semakin terasa cepat berlalu. Entah itu karena saya (kita) yang menikmati atau yang terjadi memang kita sudah berada diakhir jaman.
Kembali lagi ke topik tentang Desember, Yuni Shara sempat bernyanyi mendayu-dayu tentang hujan dibulan desember, desember kelabu, sedang Efek Rumah Kaca berelegi bahwa mereka sangat senang memandangi pelangi dibulan yang sama. Saya? jujur saja bulan Desember dulu tak pernah berarti apa-apa, yang saya ingat hanya bulan dimana ada Tahun Baru, tahun kemarin sedikit spesial karena punya pacar yang lahir dibulan itu, sekian dan tidak ada lagi sampai datangnya ia di tahun ini.
Saya tidak pernah benci tahun 2010, meski banyak hal terjadi yang memaksa saya berlari, istirahat, maraton lagi, istirahat lalu kejar-kejaran lagi, tapi utamanya saya tidak pernah benci tahun ini. Mungkin ia (Tahun 2010) begitu karena saya memang harus dipaksa untuk lebih mendewasakan diri, Tuhan taulah saya tak mungkin bisa berubah jika tak pernah dipaksa dengan sedikit "kekerasan" hehe.
Meski tidak sampai benci, terus terang saya senang juga si tahun genap itu akan berganti ganjil : 2011. dan itulah mengapa saya juga bergembira ria menyambut desember, yang sementara dan akan berakhir 21 hari lagi.
Belum ada rencana yang berarti tentang bagaimana tahun 2011 mendatang akan diisi, di kepala saya justru terisi rencana-rencana bagaimana baiknya mengakhiri 2010 ini. harus ada sesuatu yang spesial untuk sekedar ucapan perpisahan, apalagi telah menjadi guru yang baik selama ini.
masih ada sisa waktu 20 hari sebelum desember membawa tahun 2010 pergi, dan tidak akan pernah kembali. jadi saya akan pikirkan baik-baik apa rencananya..
kamu mau ikutan? :)
Love,
M.I

Rabu, 10 November 2010

Some wise advice for a dear friend :)

*this is courtesy of a friends of mine, based on our factual conversations several times a go, she wrote on her tumblr with original tittles " Some wise advice from a dear friend :)", here it is, with an adaptation.

Me : Let me ask you something. What makes you happy?
Dearest Friend : For now, I think seeing my mother would be enough for me.
Me : Are you sure? I mean small things.
Dearest Friend : Small things?
Me : Like me, twitter makes me happy, my job, even though it makes me go insane but it's satisfying.
Dearest Friend : Things you don't realize put some colors in your life ya?
Me : Yes.. I bet you never thought of that. That's because you're often thinking about what he thought of you. How he feels towards you.
Dearest Friend : ....
Me : While it's not supposed to be like that. You have your own life and you deserve to be happy. Other people doesn't make you happy. You make yourself happy. We're no longer a child who could always ask other people or other things to make us happy. We're grown ups now. Bottom line is, you have to make yourself content before you let someone else offer you some happiness so when that someone is gone, you won't lose your light of happiness, because just you, and only you, is already a happy person.

love,
M.I

Sabtu, 23 Oktober 2010

Anak kecil yang merasa dewasa..

Cerita ini dimulai ketika tak sengaja saya membaca sebuah tulisan sederhana yang sebenarnya tidak menyedihkan, mungkin sedikit sedih “iya”, tapi ga juga..

Gadis yang empunya tulisan mungkin satu tahun lebih muda dari saya, namanya “kara”. Dalam tulisan kara itu, ia bercerita akan kerinduannya kepada ibu yang sudah lebih dahulu meninggalkan ia dan keluarganya. Hari itu tepat 5 tahun sang ibu meninggal..

Seperti yang saya sampaikan tadi, ia tidak menulis dengan gaya yang cengeng , malah cenderung gembira. Diawal saya bahkan tidak mengira bahwa akan sedemikian menyentuhnya.

Kara bercerita bagaimana orang-orang disekelilingnya menunjukan empati akan “moment 5 tahun perginya sang bunda”, baik dari pacar, calom mertua, tante dan adiknya sendiri. Sampai akhirnya saya tiba disatu bagian dimana kara menceritakan kembali peristiwa ketika ia akan merayakan ulang tahunnya yang ke 17.

Ketika itu, sang ibu sedang sibuk menyiapkan acara kenduri perayaan hari ulang tahun kara yang ke 17, wajarlah untuk beberapa gadis remaja terlebih di jakarta, moment “sweet seventeen” memang terbilang ditunggu-tunggu, sayapun sempat ikut-ikutan merayakannya dulu. Kembali ke kara dan sang ibu, si Ibu yang repot menyiapkan hidangan didapur mungkin jengah karena kara hanya cuek tak membantunya, Ibupun menegurnya “Kara, ayo dong bantu ibu, ini kan untuk merayakan ulang tahun ke 17 kamu, nanti kalo pesta pernikahan kamu, baru deh kamu bisa lepas tangan dan membiarkan orang lain yg mengerjakan semua” begitu kira-kira.

Hari itu, selain tepat 5 tahun sang ibu berpulang, kara tengah menunggu hri ‘besar” nya yang hanya tinggal beberapa hari lagi. Ia akan menikah besok. Tanpa ibu disampingnya, menyiapkan segala sesuatu untuknya.

Entah kenapa, karena bagian itu, tulisan yang bagi saya mulanya sama sekali tidak sedih, tiba-tiba membuat air mata saya keluar tak pakai permisi, tidak satu-satu tapi langsung banjir tak terbendung.

Pikiran saya menerawang pada percakapan saya beberapa bulan kebelakang dengan mama. Kala itu memang keluarga kami cukup banyak menerima undangan pernikahan dari kolega, ditambah lagi sepupu saya yang jarak usianya hanya terpaut satu tahun memutuskan menikah tahun ini, mama selalu ditanya entah basa-basi atau serius kapan akan ikutan menikahkan anaknya. Saya berinisiatif membuka percakapan dengan mama, bahwa saya baru akan memutuskan menikah paling cepat di usia 27 tahun dan saya berharap mama menghormati keputusan saya.

Mama tentu saja menyayangkan, tidak marah tentu saja karena percakapan kami ini santai dan dipenuhi dengan selingan tawa, tapi jelas sekali wajah mama kemudian menjadi serius dan sedikit tidak terima, ia berpesan bahwa usia 25 tahun sewajarnya pernikahan itu sudah terjadi karena berbagai pertimbangan. Dan saya yang keras kepala tetap menganggap omongan mama dan pembicaraan kami hanya angin lalu. Toh, saya masih belum siap bahkan tidak terpikirkan kearah sana, saya ingin kuliah dulu.

Namun, tulisan kara yang terbaca oleh saya itu, benar-benar menyadarkan, betapa selama ini saya hanyalah “anak kecil” yang merasa sudah dewasa dan sangat egois tapi merasa benar.

Saya tidak pernah memikirkan, seandainya kejadian “kara” terjadi pada saya. Selama ini, saya hanya memikirkan diri sendiri, memikirkan keinginan-keinginan sendiri, rencana-rencana sendiri tanpa melibatkan mama didalamnya, mungkin ini tak lepas dari hasil didikan beliau juga yang selalu membuat saya menjadi pribadi yang mandiri.

Saya tak ingin menyia-nyiakan waktu, saya ingin membahagiakan mama, sebelum saya benar-benar ditinggalkan. Sesuatu yang tidak pernah saya pikirkan dan takutkan lagi sejak saya tumbuh besar.

Membahagiakan disini mungkin lebih dari sekedar hari pernikahan yang dihadiri mama, tapi lebih jauh lagi, mungkin seorang cucu tapi saya lebih yakin bahwa mama ingin melihat saya tumbuh membangun keluarga dan memastikan saya berbahagia dengan kehidupan saya sendiri, kehidupan yang ia lahirkan dan ia didik sejak kecil, hingga suatu ketika ketika ia menutup mata, ia dapat pergi dengan tenang dan bahagia.

Mulai detik ini, tidak ada lagi target “27” dalam otak saya, saya iklas menjalani semuanya sesuai kehendak Tuhan, saya hanya ingin membuat orang yang sangat saya cintai dan saya yakin mencintai saya pula, bahagia sebelum saya benar-benar terlambat

Kiki sayang mama

Love,

M.I

Selasa, 19 Oktober 2010

Another Eat Pray Love ( Part 2)

Postingan ini sebenarnya adalah lanjutan dari postingan sebelumnya yang ditulis pula dengan judul yang sama. Jika memang sungguh-sungguh ingin mengobati "luka hati", saya sarankan untuk membacanya terlebih dahulu, tapi kalau hanya sekedar mampir, silahkan dibaca saja yang ini :)

Seperti janji saya ditulisan yang lalu, pembelajaran untuk mempercepat penyembuhan patah hati akan saya lanjutkan. Setelah kemarin kita melewati fase "menemukan diri sendiri" dan "merubah sudut pandang", fase selanjutnya yang akan kita hadapi adalah "mensterilkan diri".

seperti halnya luka fisik, sebelum benar-benar sembuh, yang harus kita lakukan adalah "membersihkan" luka itu. secara fisik, luka memang masih merah dan basah, dan kita membersihkannya sekedar agar : "lebih hygine dan menjauhi kemungkinan infeksi".

kalau diimplementasikan pada "luka hati" proses pensterilan ini dilakukan juga dengan tujuan yang tidak jauh berbeda, yaitu sekedar agar luka yang ada tidak semakin parah, dan tidak semakin buruk karena munculnya "infeksi-infeksi" yang lain. Lalu, bagaimanakah prosesnya?

Prosesnya terbilang mudah, tapi menjalaninya mungkin yang susah hoho. Contoh yang paling kecil adalah : "menahan diri untuk tidak menghubungi mantan, tidak sms, tidak menelpon, tidak melihat profilenya di Facebook, tidak melihat foto-foto kalian berdua, intinya menghindari segala tindakan yang dapat membangkitkan memori tentangnya",
Mudah yah? tapi tentu saja perasaan ingin tahu dan penasaran itu yang selalu melekat di jiwa yang merasa insecure itu. Tapi percaya deh, semakin terbelenggu dengan perasaan penasaran yang tidak terkontrol dan akhirnya jadi terlalu banyak tahu, akibatnya buruk sendiri karena pada dasarnya luka-luka yang ada belum sembuh benar. Bukan hanya emosi yang perlu dikontrol untuk orang yang patah hati, rasa penasaran pun harus dikubur dalam-dalam.

Bersamaan dengan fase pensterilan dilakukan pula fase terakhir, yakni fase "memulai yang baru" atau "move on". Fase inilah yang ditunggu-tunggu dan menjadi klimaks proses penyembuhan patah hati. Sebenarnya tidak ada yang spesial sekali di fase ini, intinya lakukanlah hal-hal positive yang kita suka dan akan menyita energi-energi positive kita. Contohnya semisal saya yang suka sekali membaca akan membeli banyak novel atau buku-buku motivasi yang menarik, kemudian menuliskan reviewnya di blog atau micro blog semacam twitter, atau hal-hal lain semacam backpacking, jalan-jalan, membuat baju, mencoba membuka usaha, mengajar atau mengurus balita.

Banyak orang yang salah kaprah menilai bahwa fase "move on" adalah dimana kita menemukan pasangan baru, punya pacar baru atau punya gebetan baru. Buat anak SMA atau remaja mungkin begitulah cara mereka lari, makanya tak heran sistem semacam itu disebut "pelarian". Namun bagi manusia yang tergolong dewasa, mencari pelarian justru merupakan bentuk deklarasi "bahwa saya lemah dan butuh topangan".

yang sebenarnya perlu diingat benar-benar adalah bahwa masalah hati adalah masalah pribadi, masalah kita dan diri sendiri. Bukan masalah kita dengan mantan pasangan, bukan pula masalah kita dengan orang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya jika memang ada. Berakar dari pemahaman itulah maka proses penyembuhan hanya untuk diri kita pribadi dengan tidak melibatkan pribadi-pribadi yang lain.

Jika keempat fase sudah kita lalui dengan baik, dan kita sudah bisa mengerti dan memahami apa yang telah terjadi, sudah bisa dengan leluasa berjalan dengan diri sendiri, sudah menemukan jati diri yang hilang, sudah merasa bahagia dengan kemampuan dan perolehan yang kita kejar sendiri, dan yang terpenting sudah menyadari bahwa langkah kaki pada hari ini disusun Tuhan hanya untuk kita agar lebih memperbaiki diri, maka gelar "move on" pun sudah sah untuk disematkan besar-besar didada sebelah kiri :)

Sedang, masalah ada atau tidak adanya pengganti, itu masalah yang lain lagi. Tapi, mungkin bisa juga teman-teman garis bawahi, bahwa contoh "move on" yang berhasil biasanya akhirnya ditandai dengan memacari pengganti yang lebih baik dari sang mantan pasangan, tidak mesti secara fisik, unsur lebih baik dapat ditemukan dari sudut karakter, pekerjaan, pola pikir atau hal-hal lain yang tak terpikirkan. begitulah tanda jika seseorang yang telah lolos perang melawan dirinya sendiri.

Sekali lagi, selamat menyembuhkan sakit hati dan semoga tulisan ini dapat membantu.

Love,

M.I